Demi Waktu 

Boleh kenalan dek ??

Dengan polosnya Zahira membalas, boleh kak..

Zahira yang tengah asyik membalas pesan Azwa, tak mau bangkit dari tempat tidurnya itu. Entah kenapa ia begitu penasaran dengan sosok Azwa. Zahira pun men stalking facebooknya Azwa. 
Ia mulai melihat status status Azwa sampai photo photo unggahan Azwa. Photo yang pertama kali ia lihat saat itu waktu Azwa berada di Yogyakarta, tubuhnya yang membelakangi kamera, wajahnya yang menghadap kebelakang, dan tangannya sambil memegag Cannon miliknya.

Zahira semakin penasaran dengan sosok Azwa. Hatinya berkata,, 

“berarti ni orang Yogyakarta, sedangkan orang Binjai. Jauh amat yaa”. 

Tapi ia terus melihat album photo Azwa sampai ada satu photo yang ia lihat kalau Azwa memakai baju seragam Aliyah yang ada di Kota Binjai. 
Apakah aku dan dia satu sekolah ??? Kata Zahira.

Dan ternyata yuppss..

Ketika Zahira menanyakan kepada Azwa saat masa putih abu abunya ia sekolah dimana,, aku dan dia ternyata satu sekolah, Azwa asli orang Binjai. Ia pernah bersekolah disitu tepat tiga tahun yang silam.

Azwa membalas, Emangnya nya Zahira sekolah dimana ?

“Zahira dulu sekolah di MAN Binjai kak”.

“Owh berarti samalah kita, cuman kakak udah tamat dek”. Begitulah balasan Azwa.

“Heheheh iya kak”

Dari pekenalan singkat itu mereka saling mengenal, nanyak ini itu. Mereka pun tukaran nomor Handphone dan saling berkomunikasi..
Azwa yang terus perhatian kepada Zahira tidak pernah lupa menghubunginya, walau hanya sekedar menanyakan kabar saja. Zahira yang saat itu diperhatikan Azwa tidak merasakan sesuatu yang aneh, baginya itu wajar, ketika Azwa menanyakan kabar, menanyakan udah makan atau belum dan sebagainya.

Sampai suatu saat Zahira menanyakan perhatiannya itu kepada Azwa. Zahira merasa mengapa Azwa begitu peduli dengannya. Sedangkan mereka sama sama baru mengenal. Mengenal didalam dunia maya saja tanpa bertemu langsung dan belum tau betul satu sama lain.
Kamu kenapa perhatian kali sama aki Azwa ??



~~
Bersambung..

Cerbung hari ke 9 DWC II

(Binjai, 8 Januari 2018)

20:35 WIB

Advertisements

Demi Waktu (8)

Zahira dan ayah pun sampai dirumah. Ibu sudah menunggu Zahira didepan pintu. Zahira langsung menyalami sang ibu dan bergegas mengambil handuk untuk segera mandi. Ia sangat gerah karena cuaca hari ini sangat terik.

Selesai mandi, perutnya mengeluarkan pertanda yaitu suara suara halus. Tak disangka itu cacing yang ada diperut Zahira yang berbunyi. Zahira sangat lapar dan langsung menyantap makanan yang telah dimasak Ibu.

Malam pun berlalu..
~~

Keesokan harinya Zahira kali pertama akan berkuliah dan siap mengikuti pelajaran yang akan diberikan Dosen untuknya. Ia beserta Najla dan Kia duduk dibangku nomor dua. Saperti biasa, setiap awal semester antara dosen dan mahasiswa kami saling berkenalan dan memperkenalkan.

Seminggu perkuliahan berjalan lancar. Dua minggu berikutnya proses pembelajaran sesungguhnya pun di mulai. Jadwal mata kuliah pun diberikan. Zahira mempunyai target bahwa ia ingin sekali memdapat IP yang memuaskan.  Lima bulan sudah ia kuliah, singkat cerita, ujian akhir semester satu pun tiba. Zahira pun menyelesaikan ujian semester satu ini dengan lancar. Zahira mendapatkan IP 3,4 . Bersyukur karena diawal semester sudah mendapatkan nilai segitu.

Semester satu pun telah terlawati kini Zahira masuk di semester Dua dan kemudian mendapatkan IP 3,8. Itu artinya ia berhasil naik sedikit dari semester sebelumnya.

Libur panjangpun tiba. Sekitar dua minggu ia tidak pergi kekampus dan berjumpa dengan teman teman nya.

Hanya dirumah, sesekali ia membuka sosial medianya.

Zahira jarang sekali membuka akun fecebook nya. Entah kenapa hari ini ia ingin membuka facebook sembari merebahkan badan dikamarnya.

Ketika facebook telah dibukanya, zahira membuka chatingan di inbox. Ia melihat banyak sekali pesan pesan yang ia terima dan belum dibacanya. Banyak yang tak ia kenal kala itu. Termasuk salah satu nya ada seseorang yang saat itu menjadi perhatiannya Zahira.

Saat itu nama facebook nya adalah Azwa Maliq. Ia pun membaca pesan dari seseorang itu assalamualalikum dek. Begitulah pesan pertamanya untuk Zahira. Zahira membalas pesan tersebut, Waalaikumsalam kak..

Setelah membalas pesan itu, Zahira langsung off dan keluar dari facebook. Keesokan harinya, tepat dimalam hari, tak pernah pernahnya membuka facebook, ia membuka nya lagi, melihat sebuah pesan yang ternyata pesan itu adalah balasan dari Azwa Maliq.

Azwa pun membalas ..

Bersambung..

Cerbung hari ke 8 DWC II

(Binjai, 29 Desember 2017)

20:32 WIB

Demi Waktu (7)

Najla dan Kia merupakan teman barunya yang baru ia dapat dikampus saat proses matama akan berlangsung.

Mereka pun jalan bersama menuju lapangan yang ada didalam kampus. Mahasiswa baru yamg mengikuti Matama pun dikumpulkan dan berbaris di lapangan. Disitu mereka akan dibagi menjadi beberapa kelompok. 

Sebelum kelompok dibagi ada kata sambutan dari ketua yayasan dan PresMa (presiden mahasiswa) dikampus mereka. Saat pembagian kelompok berlangsung, Zahira sangat deg deg an. Ia tak tau akan satu kelompok dengan siapa. Ia berharap semoga satu kelompok dengan Najla dan Kia yang baru ia kenal tadi. Dan ternyata, yeeee.. Zahira satu kelompok dengan mereka. “Betapa keberuntunganku hari ini, terimakasih ya Allah” kata Zahira dalam hati.

Pembagian kelompok pun selesai, setiap kelompok mendapatkan kakak instruktur untuk mengarahkan mereka. Ternyata saat pembagian kelompok selesai dan masing masing kelompok masuk dalam kelas. Zahira satu kelompok dengan Nona. Teman semasa TK nya. Wahh kebetulan sekali mereka berjumpa setelah sekian lama. Dan tidak disangka Nona pun masih ingat dan tanda dengan Zahira.

Mereka pun ngobrol panjang lebar, say hello, berbagi cerita. Zahira pun tak lupa mengenalkan Najla dan Kia kepada Nona. Selama 4 hari Matama mereka selalu bersama sama. Ketika hari pertama akan berakhir, mereka saling menanyakan satu satu sama lain tentang jurusan yang mereka pilih. Zahira yang kala itu memilih jurusan Pendidikan Agama Islam dan mengambil kuliah sore. Sedangkan Nona teman TK nya mengambil jurusan Ekonomi Syariah Pagi. Najla dan Kia ternyata memilih Pendidikan Agama Islam dan masuk sore juga. 

Spontan Zahira teriak “yeeeeee pilihan kita sama”. Tapi kita bakalan berpisah dengan Nona, sahut Najla. 

Tak apa, walaupun kita beda jurusan pasti kita tetap bersama sama, sambung Nona.

Matama pun berakhir…

Satu persatu mahasiswa baru pun berpulangan, Najla dan Kia pulang dengan berboncengan. Nona yang dijemput oleh Abangnya. Begitu juga dengan Zahira, ia dijemput oleh sang Ayah yang saat itu menjemputnya dengan kendaraan beroda dua.

Sepanjang jalan Zahira bercerita kepada Ayahnya bagaimana ia selama mengikuti kegiatan Matama. Banyak hal yang ia temukan, mulai dari pengalaman baru, Teman baru, guru baru yang nantinya akan menjadi dosen saat ia mengikuti perkuliahan. Serta seseorang yang sering memperhatikannya secara diam diam.

Ayah pun menyahut, siapa yang sering memperhatikanmu diam diam nak ? 
Aku belum begitu mengenalnya yah, aku tau dia sering melihatku secara diam diam, saat aku melihatnya kembali, seakan akan dia takut ketauan dan membuang muka. Tapi dia satu kelompok Matama samaku, sebelum ayah menjemputku tadi, dia menghampiri dan menegurku.

Namanya Rifqi yahh. Tapi aku menghiraukannya..

Bersambung..

Cerbung hari ke 7 DWC II



(Binjai, 29 Desember 2017)

16:11 WIB

Demi Waktu (6)

​”Buu, Yahhh..

Tahun ini Zahira akan menyelesaikan masa putih abu abu. Zahira bingung melanjutkan ke perguruan tinggi mana. Di sekolah, Zahira ditawarkan masuk ke perguruan tinggi melalui jalur undangan yang ada di kota Medan”. Kata Zahira.

Ibu dan Ayah pun menjawabnya, “Bagaimana kalau sebaiknya kamu masuk ke perguruan tinggi yang ada di Kota Binjai aja nakk. Kami rasa itu lebih baik dari pada kamu harus ngekost dan berjauhan dengan kami”.

“Baiklah. Aku akan menuruti kata kata Ibu dan Ayah”.

Ujian Nasional pun dilaksanakan, Empat hari Zahira melaksanakan Ujian tersebut dengan sungguh sungguh agar memperoleh hasil yang memuaskan. Walau tak seperti teman temannya yang lain yang berantusias masuk ke perguruan tinggi negeri. Zahira tak merasa iri, karena ia yakin pilihan orang tuanya memasukkan ke perguruan tinggi swasta itu yang terbaik untuknya.

Ujian Nasional pun berjalan lancar. Seperti biasanya yang sudah menjadi tradisi setiap tahunnya setelah Ujian Nasional berlangsung siswa siswi mencoret coret baju putih abu abunya. Itu pertanda bahwa mereka telah tamat walau hasilnya belum keluar.

Kegembiraan pun muncul dari siswa siswi semua tak terkecuali Zahira. Ia sangat bersyukur bahwa ia telah menyelesaikan masa putih abu abu dan akan menlanjutkan pendidikan nya di perguruan tunggi swasta. Itu berarti ia sudah tak anak kecil lagi, Zahira sadar bahwa ia telah remaja dan beranjak dewasa. 

Sesampainya dirumah ia disambut oleh kedua orang tuanya. Zahira langsung memeluk ayah dan ibu dan berkata “Terimakasih karena ayah dan ibu telah mendidik Zahira sampai saat ini”.



“Ia nak,, tak perlu berterimakasih karena itu sudah menjadi kewajiban kami mendidikmu”. Jawab ayah.

Juni 2015, Zahira bersama sang Ibu mendaftar ke perguruan tinggi yang ia pilih. Dengan bermodalkan photo copy SKHU sementara, karena ijazah belum keluar dan pas photo berukuran 4×6 lima lembar. Zahira dan ibu masuk keruang pendaftaran.

Semua keperluan dan administrasi untuk masuk ke perguruan tinggi itu pun diselesaikan. Kurang lebih 15 sampai 20 menit. Zahira dan ibu keluar dari ruang pendaftaran itu. Dengan membawa informasi jadwal masuk Kuliah, tepat di  pertengahan bulan Agustus Zahira akan melaksanakan MATAMA, yaitu Masa Ta’aruf Mahasiswa, yang biasa dikenal dengan Ospek.

Matama pun berlangsung selama empat hari. Hari pertama Matama pagi pagi sekali Zahira sudah siapan dan bergegas untuk pergi kekampus. Zahira berpamitan kepada sang ibu dan diantar oleh sang ayah. Diperjalanan Zahira deg degan karena tak ada teman yang ia kenal. Sesampainya didepan kampus ia menyalami sang ayah yang hanya mengantarkannya sampai didepan saja. 

Satu persatu langkahan kaki Zahira masuk kedalam kampus. Ia mencoba berkenalan dengan teman teman barunya. Disitu ia bertemu dengan Najla dan Kia. 

~~

Bersambung..

Cerbung ke 6 30DWC II

(Binjai, 26 Desember 2017)

12:20 WIB

Demi Waktu (5)

Zahira terlihat asik bermain dengan mainannya. Jenazah sang Ibu pun telah selesai dimandikan dan dikafani. Zahira yang tak tau apa apa ini disuruh untuk mencium sang Ibu karena mau dibawa ke pemakaman. Namun, Zahira tak mau menyium Ibunya. Zahira masih ingat betul waktu sang Ibu tertidur pulas sang ibu berkata jangan ganggu Ibu kalau ibu sedang tidur. Maka dari itu ketika disuruh menciumnya, Zahira merasa bahwa Ibu sedang tertidur pulas dan tak mau boleh diganggu.

Konyol bukan ? Anak umur dua tahun sudah mengerti seperti itu. Tapi begitulah anak kecil, Daya ingatanya sangat kuat. Akhirnya sang Ibu dibawa untuk dishalatkan dan dikuburkan. Kali ini beda dengan pemakaman sebelumnya. Sahira yang dimakamkan di Medan, sedangkan sang Ibu dimakamakan di Kota Binjai. Tak jauh dari tempat tinggal yang baru mereka tempati. Proses pemakamanpun berjalan dengan lancar. Satu persatu para jiran tetangga berpulangan. 

Ayahpun tak berlama lama. Ia bergegas kembali kerumah untuk melihat kedua putrinya itu. Zahira dan bayi yang baru saja lahir itu. Sang ayah tak kuasa menahan rasa kesedihan kalau melihat wajah kedua putrinya itu. Ia tak menyangka akan terjadi seperti ini. Kehilangan orang orang yang teramat ia sayang dengan kejadian yang sama.

 

Sama sama melahirakan. Ketika Ibu melahirkan pertama kali, salah satu anak kembarnya yang meninggal. Dan ketika ibu melahirkan untuk kedua kali, sang Ibu yang meninggal.

Inilah cobaan dan ujian yang diberikan Allah kepada sang ayah. Ayah dituntut untuk bisa merawat, dan menjaga kedua putrinya sampai besar. Ayah juga sangat berterimakasih kepada sang Nenek, yaitu Ibu dari istrinya yang sangat membantu dan menolong Ia merawat kedua putrinya itu.

Sang Ayah sadar bahwa anak keduanya ini belum diberi nama. Maka dari itu sang ayah memberi nama putri keduanya yaitu Nadira Azzahra.

Hari demi hari dilewati, bahkan tahun demi tahun telah dilalui. Kedua putrinya itu, Zahira dan Nadira tumbuh semakin besar. Ketika sang ayah bekerja untuk menafkahi kedua putrinya itu, neneklah pengganti sang Ibu yang memasak satiap harinya untuk mereka.

Ketika Zahira kelas 6 SD dan Nadira kelas 3 SD. Sang Ayah memantapkan dirinya untuk berkeluarga lagi setelah sembilan tahun hidup sendiri. Mereka sebagai anak mendukung sang ayah selama itu membuat sang Ayah bahagia. Tepat ditanggal 2 Mei 2008 Ayah menikah lagi dengan seorang wanita pilihannya yang bernama Intan. Zahira dan Nadira sangat senang melihat ayah yang kala itu terlihat sangat bahagia. Akhirnya kami pun hidup bersama dengan sosok Ibu baru yang dapat menjaga kami.

Kami hidup rukun, walau kami tau dia bukan ibu kandung kami. Tapi kami tetap bahagia karena dia juga tak membedakan kami. 

Sang ayah yang dari kecil memasukkam kami di sebuah sekolah yang mengutamakan agama, yang membuat kami lebih dapat mengenal Islam seperti apa. Yaa.. Ayah emang seperti itu. Ia pengen putrinya menjadi anak yang mengenal islam secara luas. Agar tak terjerumus kedalam pergaulan bebas.

~~

18 tahun kemudian~~

Zahira duduk dibangku kelas 3 Madrasah Aliyah Negeri yang ada di Kota Binjai. Sedangkan sang adiknya Nadira duduk dibangku kelas 3 Madrasah Tsanawiyah Swasta yang ada di Kota Binjai juga. Tak terasa mereka seudah sangat besar dan beranjak dewasa.

Nadira yang saat itu kelas 3 Tsanawiyah, tak terlalu bingung melanjutkan sekolahnya kemana. Nadira masuk ke sekolah Aliyah swasta yang ada di Kota Binjai. Sedangkan Zahira yang sebentar lagi akan meninggalkan masa putih abu abunya itu, bingung akan melanjutkan perguruan tinggi dimana. Ia berdiskusi dan menanyakan hal ini kepada Ibu dan Ayahnya.

Buu.. Yahh..

~~

Bersambung..
Cerbung hari ke 5 DWC Jilid II

(Binjai, 25 Desember 2017)

12:18 WIB

Demi Waktu (4)

Ke esokan harinya,, keluarga kecil ini memulai hari hari dengan penuh kegembiraan. Mereka tak berlama lama bersedih karena masih ada Zahira yang butuh kasih sayang mereka.

Ketika Zahira menginjak usia kurang lebih satu tahun, mereka pindah rumah ke luar kota. Mereka tak tinggal lagi di Kota Medan, Ayah dan Ibu pindah ke Kota yang lebih kecil lagi dari kota Medan, keluarga kecil ini pindah ke Kota Binjai, kota yang dijulukin dengan kota rambutan.

Hari demi hari dilewati, Zahira tumbuh dan dirawat oleh kedua orang tuanya. Alhamdulillahnya, tak berselang lama, Ibu Zahira pun hamil lagi, Itu membuat kegembiraan baru nampak jelas terlihat di raut wajah mereka.

Setelah setahun yang lalu kehilangan seorang bayi kembarnya yaitu Sahira, kini akan ada lagi sosok baru yang akan hadir ditengah tengah mereka.

Ayah berkata kepada Ibu kalau kelahiran kedua ini sebaiknya kita kerumah sakit saja. 

Sang ayah tak mau terulang kejadian dua tahun silam yang merenggut nyawa Sahira. Tetapi sang ibu tak menghiraukannya, Ibu dengan gamblang nya menjawab, Tidak Ayah, Ibu mau seperti perempuan lainnya yang ingin merasakan melahirkan secara normal, Ibu tak mau ke rumah sakit apalagi operasi.

~~

Tepat tanggal 05 Desember 1999, Ibu Zahira melahirkan bayi nya yang kedua kalinya, Lagi dan lagi proses kelahiran yang kedua ini tak berjalan mulus. Usia kandungan yang pas tak seperti Zahira yang kekurangan bulan, Namun setelah bidan berhasil mengeluarkan bayi kedua ini, Sang Ibu kelihatan lemas tak berdaya. 

Kau tau ?? Ari ari yang biasa ikut keluar bersama sang bayi dan kita tanam setelah kelahiran sang Bayi tertinggal dan lengket didalam perut sang ibu. Ibu mengalami pendarahan yang sangat banyak. Ibu tak sadarkan diri. 

Sang ayah kelihatan sangat cemas dengan Ibu yang kelihatan mukanya semakin pucat dan tak sadarkan diri itu.

~~

Ibu pun dilarikan kerumah sakit yang ada di Kota Binjai. Ketika sampai di rumah sakit, Ibu langsung dimasukkan ke ruangan ICU. Dokter segera menangani sang Ibu. Tapi Allah berkehendak lain, Dokter menyampaikan kabar kepada pihak keluarga yang menunggu diluar sang Ibu telah meninggal dunia sebelum sampai di rumah sakit. Iyaa, Sang ibu menghembuskan nafas terakhirnya didalam perjalanan hendak kerumah sakit.

Saat itu, sang ayah merasakan sakit yang sangat dalam. Menjerit sekuat nya kaget mendengar dokter memberi kabar seperti itu. Betapa sedihnya, baru saja melahirkan bayi mereka yang kedua tapi sang ibu tak bisa diselamatkan.

Kacau sudah perasaan sang ayah. Kehilangan seorang istri yang ia cintai.

Sang Ayah lari masuk kedalam ruangan ICU yang melihat ibu sudah tak bernyawa lagi, Tak habis ayah berkata Ibuuu, “kenapa engkau pergi secepat ini, kenapa engkau tinggalkan diriku sendiri, kalau saja Ibu nurut kata kata ayah untuk tidak melahirkan secara normal pasti tidak akan seperti ini, Bagaimana nasib Zahira dan bayi yang baru ibu lahirkan, Bagaimana nasib kedua anak kita buu. Ayah gak mau berpisah dengan Ibu. Buuuu,, bangun buuu, banguunn”.







Hari ini menjadi hari duka untuk kedua kalinya, setelah dua tahun silam sang ibu melahirkan dan kehilangan Sahira, kini kejadian itu terulang lagi, ketika sang ibu melahirkan yang kedua kalinya, sang ibu tak terselamatkan.

Bagaikan disambar petir rasa sang Ayah, tak kuat menahan semua perasaan sedih kacau balau, campur aduk.

Ini memang sudah takdir Allah. 
Sang ibu pun dibawa pulang oleh pihak keluarga yang ingin segera memakamkan.

Sampailah dirumah duka, sudah banyak sanak saudara, jiran tetangga yang datang kerumah untuk bertakziah. Banjir air mata melihat jenazah sang Ibu telah tak bernyawa, lantunan yasin dan ayat ayat alquran terdengar. 

Zahira belum tau apa apa kalau sang Ibu telah tiada, karena usia Zahira yang masih dua tahun. Masih terlihat polos seperti bayi lainnya yang tak tau bahwa ia kehilangan sang Ibu…

~~
Bersambung..
Hari ke 4 tantangan Cerbung 30DWC II






(Binjai, 24 Desember 2017)

15:42 WIB

Demi Waktu (3)

Sahira Lahir dan Meninggal tepat ditanggal 9 April 1997, proses pemakamannya pun segera dilaksanakan, dari proses pemandian, mengkafani, menyolatkan, dan menguburkannya.

Saat Sahira dikafani terlihat wajah imut nan mungil terpancar dari kain putih yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Ibunya tak sanggup menahan air mata, tak ada habisnya sang ibu memeluk dan mencium buah hati yang di idam idamkannya. Tak rela rasanya melepas Sahira untuk selamanya.

“Anakkuu.. Jangan tinggalkan ibu.. Ibu sayang sama kamu naakk”

Berulang ulang kali sang ibu tak henti hentinya mengucapkan kata kata kata itu ditelinga anaknya.

Seakan tak mau pisah dengan salah satu anak kembarnya itu.

Sang ayah yang kala itu mencoba kuat menahan tangis berkata pada ibu,
“sudahlah ibu, ikhlaskan saja, mungkin ini jalan terbaik yang Allah berikan untuk kita. Ingat bu, masih ada Zahira. Dia dapat menjadi obat hati kita”

Ibu melihat sang ayah dan menjawab, iyaaa (sembari mengangguk anggukan kepalanya). 
Ibupun mulai luluh. 
Kemudian tak berlama lama, Sahira pun segera dibawa ke mesjid terdekat yang ada disekitar rumahnya. Badan ibu yang semakin lemas tak berdaya, tak memungkinkan untuk ikut dengan ayah untuk menyolatkan serta menguburkannya.

~~

Rombongan pengantar jenazah Sahira pun bergegas jalan, sambil melafadzkan kalimat kalimat Allah. Sepanjang jalan terdengar suara bacaan itu.

Setelah sampai mesjid, sang ayah menjadi imam untuk anaknya. Ia menyolatkan Sahira dengan penuh khusyuk.

Allahu akbar..

Allahuakbar..

Allahuakbar..

Alahuakbar..
Ditutup dengan salam.
Setelah menyolatkannya selesai, Sahira pun dibawa kepemakaman. Sahira digendong ayahnya sampai ketempat  terakhirnya. Sesekali sang ayah melirik menatap sahira yang sangat cantik bak permata. Pipinya yang masih kemerah merahan, Ditmbah dengan hidung mancungnya itu. 

~~

Mereka pun tiba di TPU setempat.

Galian tanah yang berukurang 1,5 meter x 1 meter itu pun telah dibuat. Sahira pun dikebumikan. Tanah galian tadi seketika menjadi rata tertimbun. Untuk terakhir x nya sang ayah menghantarkan Sahira ketempat peristirahatannya.

Selesai sudah proses pemakan itu. Ayahpun tak lama lama bersedih di pemakaman itu. Sang ayah langsung pulang dan  menemui sang ibu. Melihat bagaimana keadaan ibu.
~~

Sampai dirumah..

Sang ayah melihat ibu yang sedang terlelap tidur bersama buah hatinya. Yaa Zahiraa. Sang ayah menatap tajam Zahira, mata ayah spontan berkaca kaca melihat mereka berdua yang tengah pulas tertidur.

Ayah pun mendekati tempat tidur mereka dan ikut tiduran di kasur.

~~

Bersambung..
Hari ke 3 tantangan Cerbung 30DWC Jilid II





(Binjai, 23 Desember 2017)

21:43 WIB